Kawah Gunung Ijen di
perbatasan Bondowoso dan Banyuwangi, Jawa Timur berada di ketinggian
2.386 meter dari permukaan laut. Keindahan kawahnya yang berwarna hijau
tosca berpadu dengan langit biru cerah dan lereng-lereng tebing yang
terjal kecokelatan dengan garis tegas diatasnya membuat wisatawan akan
terpesona dengan keindahannya.
Jalan terjal yang harus ditempuh
sepanjang tiga kilometer dari pos akhir Paltuding membuat rasa capek
akan sirna setelah mencapai puncaknya.
Kawahnya yang berbentuk
lonjong dengan kepulan asap di beberapa tempat dan warna kuning dari
belerang di pinggiran kawahnya membuat perpaduan yang indah pandangan
mata. Hawa yang sejuk dan lereng gunung yang berupa hutan asli rimbun
kehijauan diselimuti kabut menambah eksotis suasana di pagi hari.
Dari
Jakarta ke Gunung Ijen bisa ditempuh melalui kota Surabaya atau
Denpasar, Bali dari Kota Bondowoso dan Banyuwangi. Kendaraan off road
dibutuhkan disini karena jalannya terjal dan banyak yang rusak, berbatu.
Memakan waktu sekitar tiga jam perjalanan dari kota kabupaten terakhir
tersebut. Jarak yang ditempuh sekitar 80 kilometer ke pos akhir
Paltuding. Di Paltuding juga ada penginapan sederhana yang dikelola
Departemen Kehutanan dengan tarip Rp 100.000 per kamar per hari. Dari
Paltuding perlu waktu dua jam untuk naik ke kawahnya dengan berjalan
santai.
Sebelum tiba di puncak Gunung Ijen, kita terlebih dahulu
menemukan lereng gunung yang asri dengan hutan pinus yang diselimuti
kabut. Di sepanjang jalan akan berpapasan dengan beberapa penambang
belerang yang membawa beban di pundaknya belerang berwarna kuning dengan
berat 80 kilogram. Puncak Gunung Raung dan Gunung Argopuro di kejauhan
juga kelihatan dari lereng sehingga sejauh mata memandang kelihatan
beberapa gunung menjulang sangat sedap dipandang mata.
Penambang
belerang yang berjumlah ratusan menambah semangat untuk naik gunung
karena serasa kita punya teman untuk mencapai puncaknya. Wisatawan asing
dari Eropa lebih mendominasi dari pada wisatawan lokal yang berkunjung
ke Gunung Ijen. Nenek-nenek bule dengan tongkat kayu dengan semangat
berusaha naik ke puncaknya membuat penulis malu dan urung untuk balik
turun lagi lagi karena terjalnya jalan pendakian. Tongkat dari ranting
pohon diperlukan untuk mempermudah jalannya pendakian.
Waktu
paling bagus untuk mendaki pukul 05.00-07.00 WIB karena menghindari bau
dari uap belerang yang menusuk apabila mencapai puncaknya terlalu
siang. Di pagi hari uap belerang juga tidak menutupi kawahnya sehingga
kita bisa menikmati warna hijau tosca kawahnya. Matahari yang belum
bersinar terik dan lereng gunung berselimut kabut juga lebih nyaman
dinikmati di pagi hari.
Kalau ingin melihat api biru dari belerang
yang mengeluarkan sinarnya di kawah Gunung Ijen harus berangkat mendaki
dini hari sekitar pukul 03.00 WIB dari pos Paltuding. Perlu membawa
senter dan wisatawan tidak perlu khawatir sendirian naik gunung pada
dini hari. Karena jam-jam tersebut juga waktu penambang belerang untuk
berangkat kerja. Melihat api biru adalah puncak pesona uniknya kawah
Gunung Ijen, karena api biru secara alami terlihat warnanya hanya di
malam hari sebelum matahari terbit. Perlu turun dengan jalan terjal ke
penggiran kawahnya untuk melihat api biru.
Untuk penginapan yang
lebih bagus bisa menginap di wisma milik PTP XII di perkebunan Belawan
dan Jampit yang berjarak sekitar tujuh kilometer dari Paltuding.
Menginap di wisma PTP ini pengunjung juga sekalian bisa melihat proses
pemetikan kopi sampai proses pengeringan di pabrik. Mencium bau bunga
kopi yang berwarna putih seperti harum aroma melati dan melihat buah
kopi yang berwarna merah di sepanjang jalan ke perkebunan membawa juga
keasyikan sendiri.