Saat
pagi hari, ketika Matahari mulai menyinari kawasan Kawah Ijen,
pemandangan indah dapat Anda nikmati. Kawah Ijen yang berwarna hijau
kebiruan berpendar oleh cahaya Matahari yang berwarna keemasan memantul
di bawah kawah. Saat yang paling tepat untuk menyaksikan keindahan Ijen
pada dini hari antara pukul 02.00 hingga 04.00. Saat itu Anda dapat
menyaksikan bagaimana pijaran api biru (blue fire) dari bawah kawah.
Apabila Anda ingin turun ke bawah kawah
untuk melihat api biru maka wajib disertai pemandu. Kenakan masker dan
kaca mata pelindung itu karena selain bau belerang yang sangat menyegat,
asap belerang dari aktivitas para penambang akan dengan mudah menyerang
dan membaut pedih mata.
Kawah Ijen dari atas Gunung Ijen
terlihat sangat indah. Kawah ini merupakan danau besar berwarna hijau
kebiruan dengan kabut dan asap belerang yang sangat memesona. Selain
itu, udara dingin dengan suhu 10 derajat celcius, bahkan bisa mencapai
suhu 2 derajat celcius, ini jelas akan menambah sensasi tersendiri bagi
Anda. Berbagai tanaman yang hanya ada di dataran tinggi juga dapat Anda
temukan, seperti bunga edelweis dan cemara gunung.
Jalan tanah menanjak dengan ketinggian
2.700 di atas permukaan laut akan Anda lalui dengan berjalan kaki.
Perjalanan menuju ke Kawah Ijen akan membuat Anda menghargai kehidupan
ini. Para penambang belerang dengan tekun mengangkut belerang dengan
beban luar biasa berat apalagi kalau harus diangkut melalui dinding
kaldera yang begitu curam menuruni gunung sejauh 3 km. Berkenalanlah
dengan mereka, sapa dan
Menyaksikan Penambang Belerang
Lelehan belerang diperoleh dari pipa
yang menuju sumber gas vulkanik mengandung sulfur. Gas ini dialirkan
melalui pipa lalu keluar dalam bentuk lelehan belerang berwarna merah.
Setelah membeku belerang tersebut akan membeku berwarna kuning. Bekuan
belerang inilah yang akan diambil oleh pekerja tambang. Sebelumnya
belerang dipotong dengan linggis kemudian langsung diangkut menggunakan
keranjang. Setelah belerang dipotong, penambang akan memikulnya melalui
jalan setapak. Beban yang dipikul cukup berat antara 80 hingga 100 kg.
Para penambang sudah terbiasa memikul beban yang berat ini sambil
menyusuri jalan setapak di tebing kaldera menuruni gunung sejauh 3
kilometer. Dalam sehari mereka hanya dibolehkan 2 kali naik-turun
kawah. Semua penambang akan berkumpul di bangunan bundar kuno
peninggalan Belanda yang dikenal dengan “Pengairan Kawah Ijen” yang
sekarang disebut sebagai Pos Bundar. Di sini penambang menimbang
muatannya dan mendapatkan secarik kertas tentang berat muatan dan
nilainya.
Di pos pengumpulan belerang Anda dapat
melihat dan merasakan ritual harian penambang belerang. Beberapa dari
mereka rehat di keteduhan meregang otot, beberapa yang punya karung
mengemas bongkah-bongkah hasil tambangannya. Truk terakhir datang
membawa serta pengurus koperasi. Pengurus mengabsen penambang satu per
satu yang dipanggil maju mengangkat pikulannya ke atas penimbang. Angka
yang ditunjuk oleh penimbang lalu diubah ke dalam Rupiah yang dibayar
sore itu juga. Penghasilan yang diterima seorang penambang belerang
dalam sehari tidak sebanding dengan ancaman yang dekat dengan nyawa
mereka. Satu orang penambang biasanya hanya mampu membawa satu kali
angkut setiap harinya mengingat beratnya pekerjaan dan jalan yang
dilalui.
Jangan sungkan, baurkan diri Anda
bersama penambang belerang di Kawah Ijen. Meski hidup terasa berat dan
keras, mereka tetap ramah dan bercanda, bahkan akan memberi jawaban atas
setiap keingintahuan Anda